Akhlak Islam Dalam Menjamu Tamu

Rumah Rasulullah SAW memang tak pernah sepi dari tamu. Di rumah yang sederhana di samping masjid itulah segala lapisan masyarakat datang. Mulai dari yang datang membawa kabar gembira, sampai tamu biasa atau yang datang membawa keluhan.
Suatu hari datang seorang tamu ke rumah Nabi seorang yang teramat miskin. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ini baru dalam kesempitan. Tak punya apa-apa,” katanya.



menjamu tamu
Image by: Info Unik
(Baca juga - cara-cara menjadi pelajar yang baik)

Mendengar pertanyaan tamunya, Rasulullah diam sejenak. Beliau lalu ke belakang menemui salah seorang istrinya. Diceritakan bahwa datang seorang tamu membutuhkan bantuan.
Apa jawabnya? “Wahai Rasulullah. Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran. Kebetulan sekali kami tak mempunyai apa-apa kecuali air,” jawab seorang istrinya.

Mendengar jawaban itu, hati Rasulullah kecewa sekali karena tak bisa menjamu tamunya. Apa yang akan digunakan untuk menjamu tamu sedang di rumahnya tak terdapat apa-apa yang bisa disuguhkan.

(Baca juga - Cara menjadi pelajar berprestasi)

Seperti juga tamunya, ternyata keluarga Rasulullah juga termasuk keluarga miskin.
Iba melihat tamunya yang agaknya benar-benar membutuhkan pertolongan, beliau lalu menawarkan kepada para sahabatnya yang hadir di rumah itu. “Siapa di antara kamu yang mau menjamu tamuku malam ini, pasti Allah akan merahmatinya,” katanya.

Tiba-tiba ada seorang lelaki Anshar berdiri dan menjawab, “Saya ya Rasulullah.” Seketika itu pula sahabat Anshar itu pulang menemui istrinya dan berkata, “Adakah sesuatu malam ini? Saya menyanggupi Rasulullah untuk menjamu tamunya.”

“Baik suamiku, tetapi malam ini tak ada persediaan makanan di rumah ini kecuali untuk anak-anak kita,” jawab istrinya.

“Biarlah, lipurlah anak itu dengan yang lain. Bila minta makan malam, usahakan dia tidur,” jawab sang suami enteng.

“Bagaimana cara kita menjamu tamu, toh makanannya tinggal sedikit. Hanya cukup untuk seorang.”
“Gampang. Jika tamu kita masuk, suguhkan hidangan yang ada, dan sentuhkan tanganmu ke lampu hingga padam. Tetapi usahakan dia jangan sampai tahu. Nah, dalam kegelapan malam itu, persilakan dia makan, nanti saya akan menemani tamu makan meski cuma pura-pura,” ujar suaminya mengatur siasat.

Tak lama kemudian tamu pun datang. Dilaksanakanlah “sandiwara” itu sesuai skenario yang telah dirancang sebelumnya.

Esoknya, lelaki Anshor itu mendatangi Rasulullah SAW. Belum sampai menceritakan peristiwanya, Rasulullah SAW telah memujinya, “Aku benar-benar kagum dan hormat atas usahamu berdua terhadap tamumu.”

Dikutip dari Menyingkap Kisah-Kisah Hikmah Terpendam.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »